Oleh: Bung Dayat Mbojo
Lentikan
sayu matamu menghantui diriku akan takut kehilanganmu gadis bugisku, Suara
gelombang Pantai Losari berdesus keras mengisaratkan bahwa dirimu patut untuk
ku perjuangkan, Semangat dan harapanku semoga hari esok kau hadir dihadapanku
dengan senyum ramahmu dan memintaku untuk tetap setia meskipun kita dilahirkan
ditanah dan tradisi budaya yang berbeda, ucapanmu semakin menyakinkanku bahwa
kau tecipta bukan atas dasar kekagumanmu terhadap pribadi sederhanaku tetapi kau
tercipta atas dasar cinta dan kepengertianmu, kau memintaku untuk mendaki
gunung Bawakaraeng sampai kepuncaknya,
sebagai bentuk bahwa diriku benar-benar kau perjuangakan bukan hanya
sebatas untaian kata yang tak bermakna, kujawab jangankan gunung bawakaraeng
yang tak pernah mengeluarkan asap yang mempengaruhi iklim dunia selama 2 tahun
berturut-turut sehingga tidak ada sebercak cahaya fajarpun menampakan
kehangatanya, sehingga mengakibatkan penghabatan dalam segala aktifitas
manusia, Gunung Tamborapun akan saya sebrangi sewalaupun diriku tersisih oleh
belantara savanna yang tak berujung asalkan kau bersama dengan manisku.
Pagi
indahpun datang dengan pancaran fajar menggugurkan embun-embun dibercak
rerumputan hiaju tak bersuara, keindahan pagipun berlanjut dengan Kicauan indah
sepasang burung merpati diatas dahang pohon jati berbagi suka dan tawa dalam
menebarkan cinta kasih diantara mereka. Ini semua mengisaratkan bahwa cinta
tidak harus memiliki kesamaan dalam semua dimensi latar belakang karna cinta hadir
untuk menyatukan segala bentuk perbedaan, lihatlah gadis bugisku cerita indah
telah kita lewati dan monerahkan decak kagum bagi mata manusia yang melihatnya
karna kita mampu menghadirakan keharmonisan ditengah keberagaman.
Tidak
terasa kita sudah sejauh ini melangkah tampa henti dengan pengharapan suatu
saat kita akan disatukan dalam balutan tradisi keberagaman hasil dari pada
kombinasi budaya tetuah kita, cerita manis kita akan menjadi sebuah kesaksian
Alam Raya pada Tuhan bahwa anak cucu adam adalah mahluk yang meyakini kesamaan
cinta ditengah segala perbedaan, kesaksian alam inilah sebagai bentuk
penyantuan antara kau dan aku, keyakinan cinta kau dan aku mengalahkan
keyakinan ku pada Tuhan penciptaku karna pancaran manifestasi penciptanya ada
pada bola mata sayumu sehingga keraguanku akan zat-zat ketuhanya selama ini
terjawab dalam satiap senyum lepasmu tampa ada kebohongan yang tersirat.
Tangan
ku bergetar dikala jemari ku melukiskan kesetiaanmu dalam bingkai kalimat yang mungkin terlalu
sederhana ku gambarkan lewat kata-kata sederhana ku, pikiran ku pun menggebu
jikalau bait ini tak ku goreskan, biarkanlah goresan sederhana ku ini menjadi
cerita manis dikala dirimu lelah manghadapi ketidak dewasan ku terhadapmu,
hembusan angin Pantai Bira pun akan cemburu melihat kau dan aku telah menjadi
kita juga biarkan desiran air terjun Tangga Seribu memercikan hentakan air
kecemburuan dikala kau dan aku menjadi satu dalam cerita manis kita.
Orang
bugis terkenal dengan kesetiaan itulah sebabnya ku memilih kamu melewati
hari-hariku ditanah rantauan ku, kuingin megukir cerita kita diatas ombak
pantai tanjung bunga biarkanlah ombak dengan desiran gelombangnya membawa
cerita indah ini sampai ke pantai lariti yang berpasir putih mengisaratkan
seputih hati ikhlasku terhadapmu, dinginya suasana Malino dan Pegunungan Godo
Bima tidaklah sedingin hati ini menghadapimu dikalah kau jenuh dengan
ketidakpastian ku terhadapmu. Sungguh terlalu naïf diri ini jikalau dibenakmu
masih ada mosi ketidak percayaan dan kesungguhanku terhadapmu kau terlalu baik
untuk ku sia-siakan Gadis Bugisku yakinkan bahwa kau apantas untuk kuperjuangan
dengan segala perbedaan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar